Yogyakarta-Menyambut Pemilu 2024, pemahaman demokrasi pada setiap warga negara Indonesia menjadi sangat penting. Salah satu unit paling penting untuk menanamkan pemahaman demokrasi pada setiap warga negara Indonesia adalah keluarga di rumah.

Sejak lahir nalar anak tumbuh dibawah pendidikan yang diberikan oleh orang tua sebagai pondasi konsep kepercayaan melalui pengasuhan yang diberikan.

Ditinjau dari perspektif psikologi perkembangan, internalisasi ide-ide demokrasi kepada seseorang terjadi melalui beberapa tempat: keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Dari tempat-tempat tersebut, ada semacam konsensus umum bahwa keluarga adalah agen sosialisasi utama. Alasannya, di dalam keluarga, setiap orang merasakan pengalaman eksistensial, pengalaman bahagia, cinta, kepedulian, dan perhatian.

Seorang pribadi bahagia di dalam keluarga akan bertumbuh menjadi seorang warga negara yang baik. Sebaliknya, orang yang tidak bahagia di rumah, berada dalam lingkungan keluarga buruk dan tertekan, akan memicu persoalan dan instabilitas sosial berbangsa dan bernegara.

Idealnya, kultivasi dan restorasi kehidupan bernegara demokratis dilakukan secara top-down dan bottom-up sekaligus, sehingga prosesnya harus sampai pada akar-akarnya yakni kehidupan keluarga. Demokrasi tidak hanya menjadi santapan akademisi, birokrat, politisi, dan kalangan elit ekonomi-politik seperti tampak dalam politik arus utama (mainstream) selama ini, melainkan harus menyata dalam aktivitas hidup harian hingga ke tengah keluarga.

Dilihat secara lebih luas, kehidupan keluarga dan bernegara menjadi cermin bagi satu sama lain. Problematika hidup bernegara merefleksikan problematika kehidupan keluarga, begitu pula sebaliknya. Contohnya, korupsi, skandal jabatan, penipuan, kejahatan sosial dalam realitas bernegara berakar pada simtom-simtom sosial dalam keluarga. Demikian pula sebaliknya, perceraian, perselingkuhan, kekerasan terhadap anak dan perempuan serta berbagai skandal dalam keluarga melahirkan wajah sosial bernegara yang seram. Jadi, korelasi keduanya bersifat simetris.

Jika keluarga-keluarga kuat, maka negara pun ikut kuat. Seandainya eksistensi keluarga-keluarga menjadi lemah, negara akan dirundung banyak masalah. Oleh karena itu, jika demokrasi sudah dipraktikan sejak dalam keluarga, maka kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia akan menjadi ruang ekspresi dan manifestasi potensi demokrasi dari dalam keluarga.

Berdasarkan latar belakang tersebut, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Yogyakarta mengadakan pendidikan politik untuk perempuan dengan tema “Demokrasi Sejak dalam Ayunan: Perempuan, Parenting, dan Politik Kebangsaan” yang diadakan pada tanggal 15 September 2022 di Pendopo Kemantren Mergangsan.

Pada kegiatan yang dibuka langsung oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Yogyakarta, Budi Santosa, S.STP., M.Si. tersebut, hadir sebagai pembicara Prof. Dra. Alif Muarifah, S.Psi.,M.Si.,Ph.D (PGPAUD Universitas Ahmad Dahlan) yang membawakan materi tentang “Perempuan dan Proses Penerapan Prinsip Demokrasi dan Kebangsaan di Rumah” serta Sylvi Dewajani, M.Sc. (Ketua KPAID Kota Yogyakarta) yang memberi pemaparan tentang “Dari Rumah Untuk Generasi Cinta Negeri dan Sadar Demokrasi”.

 

By AR

Leave a Reply

Your email address will not be published.