Yogyakarta-Dalam bertutur tidak hanya sekadar menghafal, tapi perlu seni dalam membangun keterikatan dengan penonton, sehingga cerita yang disampaikan lebih mengena. Hal ini disampaikan Juri Final Lomba Bertutur Tingkat Sekolah Dasar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta, pada Rabu (10/8/2022) di Halaman Perpustakaan Kotabaru.

“Ketika sedang bertutur diusahakan emosi tetap terjaga meski berpindah tempat dan dalam bertutur tetap disesuaikan usia anak. Melalui penekanan kalimat, intonasi, gesture, ekspresi, dan lainnya yang bisa mempertebal penyampaian cerita kepada penonton,” ujar Evi Idawati ketika memberi masukan dan evaluasi kepada peserta dan pelatih.

Setelah melalui tahap penyisihan Lomba Bertutur pada 19 Juli lalu, dari 20 peserta yang masuk babak final, terpilih 5 peserta terbaik yang mendapat penghargaan. Juara I Azzahra Farzana Nur Rahmah dari SD Muhammadiyah Sapen 1. Juara II Raasyid Kamaljubair Mahiran dari SD Muhammadiyah Karangkajen 1. Juara III Sheva Helwa Syakira dari SD Muhammadiyah Sapen 1. Kemudian Juara Harapan I Avisa Rajwaa Parahita dari SD Muhammadiyah Nitikan dan Juara Harapan II Elvareta Cira Indy Faustine dari SDIT Luqman Hakim.

Materi Lomba Bertutur berupa cerita rakyat asal Daerah Istimewa Yogyakarta. Di mana peserta membawakan cerita selama tujuh menit pada babak final. Komponen penilaian lomba terdiri dari penampilan, cara, dan teknis bercerita serta penguasaan materi. Apresiasi yang akan diberikan kepada 5 peserta terbaik adalah Piagam Walikota dan uang pembinaan. Uang pembinaan yang diberikan kepada Juara I sebesar Rp5.000.000, Juara II Rp4.500.000, Juara III Rp4.000.000, Juara Harapan I Rp3.500000 dan Juara Harapan II Rp3.000.000.

Disampaikan Pustakawan Ahli Muda Sri Anik Lestari bahwa kegiatan Lomba Bertutur sendiri merupakan salah satu komitmen Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta, dalam upaya meningkatkan kegemaran membaca pada generasi muda, dan pelestarian budaya daerah atau lokal yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Senyampang dengan tema lomba, cerita yang dibawakan peserta adalah dongeng atau cerita rakyat dari DIY. Maka dari situ peserta akan lebih mengenal dan belajar banyak hal yang asalnya dari wilayah DIY khususnya Kota Yogya,” jelasnya.

Sesuai dengan visi misi dari adanya Lomba Bertutur, Sri Anik Lestari mengatakan tujuannya juga untuk melatih kepercayaan diri, cinta budaya lokal, meningkatkan kegemaran membaca, mengasah bakat dan kreativitas, hingga membentuk siswa-siswi sekolah dasar yang terampil serta imajinatif dalam mendongeng.

“Dari Lomba Bertutur ini peserta juga bisa menjadi agen yang bisa memberikan manfaat dari pesan moral yang disampaikan kepada pemirsa melalui dongeng atau cerita yang dibawakan. Pada intinya melalui kegiatan ini tujuannya untuk meningkatkan literasi sejak dini,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya Lomba Bertutur juga didukung budayawan, sastrawan, praktisi, dan pustakawan sebagai Juri. Selain itu juga mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kota Yogyakarta terkait rekruitmen dan prestasi non akademik peserta lomba.

By AR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *