Yogyakarta-Pandemi Covid-19 yang melanda hampir 2 tahun telah berdampak pada aspek sosial, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat khususnya di Kota Yogyakarta.

Berbagai upaya pun terus dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, salah satu adalah memberikan kesempatan para pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) Kota Yogyakarta untuk dapat memasarkan kembali produk-produknya dalam sebuah kegiatan pameran dan promosi interaksi langsung dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Salah satu pelaku UKM yang terdampak Pandemi Covid-19 adalah kelompok jumputan Srikandi Cokro, Kelurahan Cokrodiningratan.

Kelompok ini selama 14 hari kedepan di fasilitasi oleh Dinas Perdagangan Kota Yogya untuk memasarkan produknya di dua Mall besar di Kota Yogya, yakni Malioboro Mall dan Galeria Mall.

Ketua Kelompok Jumputan Srikandi Cokro, Siti Masamah mengungkapkan, dengan adanya kegiatan pameran tersebut diharapkan seluruh anggotanya dapat bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19.

“Selama Pandemi Covid-19, untuk memasarkan produk kami, kami menggunakan sistem onlie, alhamdulilah meski pandemi produk kita tetap ada yang order, jadi yang paling sering pesan daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah, dan yang terjauh adalah dari Ambon” katanya, Selasa (2/11/2021).

Saat di tanya tentang harga batik jumputan yang mereka jual, ia mengatakan tergantung dari motifnya, semakin lebih warnanya maka harga akan menyesuaikan.

“Kalau harga setiap potongnya itu tergantung pada motifnya semakin sulit tingkat pengerjaanya, misalnya lebih dari satu warna dan memakai bahan kain yang kualitasnya bagus seperti premisima dan sutra maka harganya pasti lain, kami menjual termurah 130 ribu dan yang termahal adalah diatas 500 ribu, ” jelasnya.

Dipilihnya batik jumput, menurut Siti karena membuat batik jumputan tidak sesulit batik tulis dan cap. “Hanya saja, dibutuhkan kehati-hatian ketika melepas ikatan pola agar tidak merobek atau merusak kainnya” katanya.

Siti menjelaskan proses pembuatan batik jumputan Cokrodiningratan dilakukan dengan cara dijumput atau pola dan yang akan diberi warna diikat dengan karet gelang, atau dijahit rapat.

“Setelah itu dicelupkan ke pewarna dan djemur. Setelah kering, ikatan dilepas dan muncullah pola yang dibuat tadi” ungkapnya

Untuk pewarnaannya sendiri, para ibu ini menggunakan bahan pewarna jenis indigosol atau naptol. Yang membedakan keduanya adalah bahan campuran yang harus disediakan serta teknik pewarnaan.

“Indigosol memerlukan cahaya matahari untuk mengubah warga kain sementara kain dengan pewarnaan naptol tidak memerlukan cahaya matahari’ ujarnya.

Setelah pewarnaan, lanjutnya, batik jumput terlebih dahulu dibilas dengan air biasa, baru kemudian memasuki tahap pendedelan.

“Jahitan atau ikatan yang ada di kain dilepas dan dibilas lagi dengan air bersih. Setelah tahapan ini dilalui maka pola dan motif jumputan akan tampak di kain tersebut” jelasnya.

Namun, Siti mengakui dengan teknik jumputan itu seringkali motif yang dihasilkan tidak sesuai dengan pola yang dibuat dan diharapkan. “Tapi justru itulah, menurutnya, yang membuat batik jumputan menjadi unik dan berbeda.” tambahnya.

Siti berharap kedepan kelompok Srikandi Cokro semakin kompak, karena dengan kekompakan tersebut ia yakin produksi batik jumputan cokrodiningratan juga akan berkembang pesat

“Intinya adalah kekompakan antar anggota, dan saya yakin usaha batik jumput kalau bener-bener dikelola dengan baik akan bisa berkembang pesat” tegas Siti.

By AR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *